Profesionalisme Guru

Sebagai     seorang     profesional,     pendidik     memiliki     ciri-ciri     seperti  yang dikembangkan oleh Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (1991).

  1. Memiliki fungsi dan signifikansi sosial.
  2. Memiliki keahlian dan keterampilan tingkat tertentu.
  3. Memperoleh keahlian dan keterampilan melalui metode ilmiah.
  4. Memiliki disiplin ilmu.
  5. Memiliki latar pendidikan perguruan tinggi.
  6. Memiliki etika profesi yang dikontrol organisasi profesi.
  7. Bebas memutuskan  sendiri  dalam  memecahkan  masalah  yang  berkaitan  dengan pekerjaannya.
  8. Mempunyai nilai sosial di masyarakat.
  9. Berhak mendapatkan imbalan yang layak.

Untuk memperkuat keprofesionalitasannya, seorang pendidik (Pidarta, 1997) perlu: (1) memiliki sikap suka belajar, (2) mengetahui cara belajar, (3) memiliki rasa percaya diri, (4) mencintai prestasi tinggi, (5) memiliki etos kerja produktif dan kreatif, serta (6) puas terhadap  kesuksesan yang dicapai dan berusaha meningkatkannya

Nah,  setelah  mencermati  pengertian  tersebut,  Anda  dapat     membuat  sebuah pemahaman bagaimana peran pendidik dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah sebagai bagian dari Manajemen Berbasis Sekolah. Karena pendidik berkaitan pula dengan masyarakat terutama dengan orang tua siswa, maka seorang pendidik :

  1. bertindak sebagai mitra orang tua peserta didik;
  2. melaksanakan disiplin yang permisif;
  3. memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengakualisasikan potensi diri  anak didik masing-masing;
  4. mengembangkan bakat peserta didik;
  5. melakukan dialog atau bertukar pikiran secara kritis dengan peserta didik; serta
  6. memperhatikan dan membina perilaku nyata agar positif pada setiap peserta didik (Pidarta, 1997).
  7. Pengembangan Kinerja Tenaga Pendidik

Menurut UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas, dalam pengembangan kinerja tenaga pendidik,   ia berhak untuk memperoleh pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas. Untuk itu, ia diberi kesempatan untuk menggunakan sarana dan prasrana serta fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugasnya. Namun demikian, pengembangkan kinerja tenaga pendidik harus beranjak dari kualifikasi minimum     yang  dimilikinya  dan  sertifikasi  yang  sesuai dengan  jenjang  kewenangan mengajar, sehat jasmani dan ruhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan dan prestasi mereka di bidang   pendidikan.   Pengembangan        kinerja  tenaga   pendidik,   juga   terkait   dengan kompetensi   yang   harus   diemban,   yaitu   kompetensi   pedagogik,   kompetesi   sosial, kompetensi  intelektual. Dalam menjalankan tugas, komitmen dan dedikasi pendidik dan tenaga               kependidikan    terhadap     pekerjaan     merupakan     indikator    penting     dalam pengembangan  kinerja.  Indikator  itu  misalnya:      penuh          dengan  ide,  kreatif,  inovatif, toleran, kreatif, disiplin, evaluatif, kooperatif.

Seorang pendidik harus senantiasa mengembangkan kinerjanya secara konsisten dan   berkelanjutan   mengingat peranannya   sebagai:   (1)   manajer   pendidikan   atau pengorganisasi kurikulum, (2) fasilitator pendidikan, (3) pelaksana pendidikan, (4) pembimbing atau supervisor para siswa, (5) penegak disiplin siswa, (6) model perilaku yang akan ditiru siswa, (7) konselor, (8)   evaluator, (9) petugas tata usaha kelas, (10) komunikator dengan orang tua siswa dan masyarakat, (11) pengajar untuk meningkatkan profesi secara berkelanjutan, serta anggota profesi pendidikan. (Pidarta, 1997).

Dalam mencapai usaha optimal tujuan pendidikan, peran guru dan kinerjanya merupakan hal yang sangat penting.  Secara ideal seorang pendidik diharapkan memiliki nilai-nilai kinerja positif seperti: prestasi kerja, rasa tanggung jawab, ketaatan, kejujuran, kerjasama, prakarsa, dan kepemimpinan. Hal-hal tersebut merupakan indikator kinerja seorang pendidik, selain latar belakang akademik dan keterampilan khusus yang dimilikinya. Untuk itu, segala upaya untuk memacu kinerja pendidik agar menjadi profesional akan sangat dipengaruhi oleh keterlaksanaan MBS, misalnya dalam kaitan dengan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang memperlancar tugas guru, perancangan proses belajar mengajar yang memacu metode kerja guru semakin kreatif,  meningkatkan  kemampuan  akademik  guru  melalui  program  in  job  training sehingga mamacu kemampuan sumber daya manusia kependidikan, serta meningkatkan motivasi dan gairah kerja guru.

Punya komentar ?

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes